Sabtu, 09 Maret 2013

AkhLak Terpuji KepadA SeSama


A.      Pendahuluan
1.    Latar Belakang
Di zaman sekarang ini adat kebudayan Indonesia yang terkenal dengan sopan santunnya, ramah tamahnya sebagai ciri adat ketimuran sudah mulai pudar, krisis moral terjadi dimana-mana generasi sebagai ujung tombak di masa depan sudah mengesampingkan yang namanya tata krama.
Dalam makalah ini akan kita bahas mengenai sifat terpuji yang mungkin bisa membangkitkan kembali norma-norma yang pada saat ini sudah mulai hilang dikit demi sedikit setidaknya buat penyusun sendiri.
Akidah Akhlak merupakan suatu materi yang sangat penting untuk  dipahami dan diamalkan oleh siswa. Karena dengan begitu, siswa akan mengetahui isi dari Akidah Akhlak itu sendiri. Siswa akan berperilaku dengan sifat-sifat terpuji, menghindari sifat-sifat tercela dan bertata krama dalam  kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian diharapkan siswa mampu mengimplementasikan dalam  kehidupan nyata baik di sekolah,  rumah dan di masyarakat. Terbukti dari sikap dan perilaku siswa yang menyimpang dari isi materi Akidah Akhlak itu sendiri, seperti melakukan perbuatan dan akhlak tercela dan hal-hal lain yang bertentangan dengan isi materi Akidah Akhlak. Ini semua disebabkan  karena kurangnya pendalaman dari isi materi itu sendiri. Untuk itu perlu diupayakan secara maksimal.
2.    Rumusan Masalah
a.    Apa pengertian dan pentingnya husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun?
b.    Apa saja bentuk-bentuk husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun?
c.    Apa dampak positif dari husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun?
d.   Bagaimana membiasakan husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun dalam kehidupan sehari-hari.
3.    Tujuan Pembahasan
a.    Siswa mampu memahami apa pengertian dan pentingnya husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun,
b.    Siswa mengerti bentuk-bentuk husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun,
c.    Siswa dapat menjelaskan nilai-nilai positif dari husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun, dan
d.   Siswa dapat menerapkan husnudzan, tawadhu’, tasamuh, dan ta’awun dalam kehidupan sehari-hari.

B.       Pembahasan
1.    Akhlak Terpuji Kepada Sesama
a.    Husnudzan
1)   Pengertian dan Pentingnya Husnudzan
Secara bahasa husnudzan berasal dari lafadz “husnun” yang artinya baik dan lafadz “adzonu” prasangka, sehingga husnudzan berarti prasangka, perkiraan, atau dugaan baik. Menurut istilah husnuzan adalah cara pandang sesesorang yang membuatnya melihat sesuatu secara positif.
Seorang yang memiliki sikap husnuzan memandang semua orang itu baik dan akan mepertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih, pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu kebenaranya, sehingga tidak menimbulkan kekacauan dalam pergaulan. Sikap ini ditunjukkan dengan rasa senang, berpikir positif, dan sikap hormat kepada orang lain tanpa ada rasa curiga, dengki, dan perasaan tidak senang tanpa alasan yang jelas.
Pentingnya husnudzan terhadap sesama manusia, maka dalam hidupnya akan memiliki banyak teman, disukai kawan, dan di segani lawan. Husnuzan terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam pergaulan, baik pergaulan di sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Sebab tidak ada pergaulan yang harmonis tanpa adanya prasangka baik antara satu individu dengan individu lainnya. Dengan begitu hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi lebih baik, terhindar dari penyesalan dalam hubungan dengan sesama, dan selalu senang dan bahagia atas kebahagiaan orang lain.[1]
2)   Bentuk dan Contoh Husnudzan
Orang yang mengaku beragama Islam wajib melaksanakan ajaran Islam dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. Adapun perilaku yang mencerminkan sikap husnudzan:
a)    Menyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan dan perintah agama demi kebaikan manusia sendiri,
b)   Menjauhi prasangka buruk kepada siapapun apabila tidak ada bukti,
c)    Mengembangkan sikap baik dalam kehidupan bermasyarakat, dan
d)   Memberi kepercayaan kepada sesama mnusia tentang suatu urusan dengan kepercayaan bahwa ia dapat melaksanakan tugasnya.
3)   Nilai-nilai Positif dari Husnudzan
Setiap akhlak terpuji pasti mempunyai nilai-nilai positif (terutama bagi pelakunya sendiri) dan terkadang bagi orang lain, sesuai firman Allah SWT, sebagai berikut:  
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ
Artinya:
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri”.[2]

Adapun dampak positif perilaku husnudzan antara lain:
a)    Semakin dekat hubungan batin antara pelaku dan pihak lain yang diduga berbuat kebaikan,
b)   Memperoleh kepercayaan dari orang yang menduga dirinya telah berbuat baik, dan
c)    Memperkuat hubungan persaudaraan.
4)   Membiasakan Berperilaku Khusnudzon
Kenyaman dalam menjalankan kehidupan ada pada habluminallah, habluminannas. Oleh karenanya kita harus bisa membiasakan sikap husnudzan dalam kehidupan, antara lain:
a)    Tidak mudah menerima suatu berita yang tidak jelas sumber serta kebenarannya,
b)   Berusaha tidak sering ketemu dengan sesama teman atau anggota masyarakat, dan
c)    Dengan sering bertemu dapat mengantisipasi munculnya gosip yang sering merusak hubungan persaudaraan.

b.    Tawadhu’
1)   Pengertian dan Pentingnya Tawadhu’
Tawadhu’ secara bahasa adalah "التَّذْ لُلْ" ketundukan dan "التَّخَا شُعْ" rendah hati. Secara terminologis Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Orang yang tawadhu’ adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan dan tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki.[3] Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW:
اِنَّ اللهَ اَوْحَى اِلَىَّ اَنْ تَوَاضَعُوْا حَتَّى لَايَفْخَرَ اَحَدٌعَلَى اَحَدٍ وَلَا يَبْغِى اَحَدٌ عَلَى اَحَدٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Allah memberi wahyu kepadaku agar engkau semua saling tawaduk, sehingga tidak ada orang yang bersikap sombong kepada yang lain dan tidak ada yang menganiaya seseorang terhadap yang lain”.[4]

Sesungguhnya orang yang tawadhu’ dan lemah lembut, keduanya itulah yang mendapatkan ketenangan serta kasih sayangnya diatas bumi, yang mana kepada saudara-saudara mereka sesama mukmin mereka berlaku lemah lembut dan penuh kasih sayang. Sementara kepada orang kafir musuh-musuh Islam mereka bersikap keras dalam artian tegas.[5]
Tawadhu’ dapat dikatakan jalan ynag mengantarkan manusia bersatu dan damai dalam pergaulan, dan sebagai sikap untuk membina persaudaraan.
2)   Bentuk dan Contoh Tawadhu’
Sikap tawadhu’ yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Adapun bentuk-bentuk perilaku tawadhu’:
a)    Menghormati orang yang lebih tua atau lebih pandai dari pada dirinya,
b)   Sayang kepada yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya,
c)    Menghargai pendapat dan pembicaraan orang lain,
d)   Bersedia mengalah demi kepentingan umum,
e)    Santun dalam berbicara kepada siapapun, dan
f)    Tidak suka disanjung orang lain atas kebaikan atau keberhasilan yang dicapai.
3)   Nilai-nilai Positif Tawadhu’
Dampak positif tawadhu’ berarti akibat baik sikap tawadhu’. Adapun dampak positif sikap tawadhu’, antara lain:
a)    Menimbulkan simpatik pihak lain sehingga suka bergaul dengannya,
b)   Akan dihormati secara tulus oleh pihak lain sesuai naluri setiap mnusia ingin dihormati dan menghormati,
c)    Memperkuat hubungan persaudaraan antara dirinya dan orang lain, dan
d)   Mengangkat derajat dirinya sendiri dalam pandangan allah maupun sesama manusia.
4)   Membiasakan Berperilaku Tawadhu’
Untuk dapat memiliki sikap tawadhu’ dalam pergaulan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a)    Biasakan bersikap sabar,
b)   Usahakan untuk tidak bersikap sombong,
c)    Jangan menjadi pendendam,
d)   Jangan bersikap tamak dan rakus terutama harta benda,
e)    Melatih diri untuk menghargai kemampuan orang lain, tidak meremehkannya, dan
f)    Menyadari sepenuhnya bahwa setiap manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan yang berbeda.[6]

c.     Tasamuh
1)   Pengertian dan Pentingnya Tasamuh
Tasamuh berasal dari kata تَسَامَحَ – يَتَسَامَحَ yang artinya toleransi. Tasamuh berarti sikap tenggang rasa saling menghormati saling menghargai sesama manusia untuk melaksanakan hak-haknya. Kita wajib menghormati karena manusia dapat merasakan bahagia apabila hidup bersama manusia lainnmya. Pada hakikatnya, sikap seperti ini telah dimiliki oleh manusia sejak masih usia anak-anak, namun perlu dibimbing dan diarahkan.[7]
Tasamuh dapat menjadi pengikat persatuan dan kerukunan, mewujudkan suasana yang harmonis, dapat menjalin dan memperkuat tali silaturrahmi kepada sesama, mempererat tali persaudaraan dengan semua kalangan, menjalin kasih sayang antar umat beragama, dan memperoleh banyak kemudahan.
2)   Bentuk dan Contoh Tasamuh
Bentuk-bentuk tasamuh dalam kehidupan sehari-hari:
a)    Selalu memberi kemudahan  dan tidak mempersulit orang lain dalam hal apapun,
b)   Selalu memiliki niat atau dorongan untuk membantu orang lain,
c)    Menghargai pendapat pikiran bahkan keyakinan orang lain,
d)   Tidak suka memaksakan kehendak,
e)    Tidak mengganggu ketenangan tetangga,
f)    Tidak melarang tetangga apabila ingin menanam pohon dibatas kebunnya, dan
g)   Menyukai sesuatu untuk tetangganya sebagaimana ia suka untuk dirinya sendiri.[8]
Contoh perilaku tasamuh, seseorang meminjam uang dari kita, tetapi orang tersebut belum dapat mengembalikan hutangnya, dengan besar hati kitapun tidak segan-segan memberikan keluasan berupa tenggang waktu atau bahkan diikhlaskan.
3)   Nilai-nilai Positif Tasamuh
Sebagai sifat terpuji, dampak positif tasamuh cukup banyak macamnya:
a)    Memuaskan batin  orang lain karena dapat mengambil hak sebagaimana mestinya,
b)   Kepuasan batin yang tercermin dalam raut wajahnya menjadikan semakin eratnya hubungan persaudaraan orang lain dengan drinya,
c)    Eratnya hubungan baik dengan orang lain dapat memperlancar terwujudnya kerjasama yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, dan
d)   Dapat memperluas kesempatan untuk memperoleh rizki karena bnyak relasi.
4)   Membiasakan Berperilaku Tasamuh
Agar sikap tasamuh menjadi sikap yang dapat selalu kita jaga ada beberapa hal yang harus biasa kita lakukan diantaranya:
a)    Senantiasa menghargai perbedaan,
b)   Senantiasa menjalin persaudaraan dan persahabatan,
c)    Senantiasa bersikap lemah lembut , sopan, ramah, dan santun, dan
d)   Menjadikan perbedaan sebagai sarana untuk berlomba dalam berbuat kebaikan dan bukan untuk menambah perpecahan.

d.    Ta’awun
1)   Pengertian dan Pentingnya Ta’awun
Ta’awun berasal dari bahasa arab تَعَاوَنَ- يَتَعَاوَنُ- تَعَاوُنًا  yang berarti tolong menolong, gotong royong, atau bantu  membantu dengan sesama. Ta’awun adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak dapat dipungkiri, kenyataan membuktikan bahwa suatu pekerjaan atau apa saja yang membutuhkan pihak lain pasti tidak akan dapat dilakukan sendiri oleh seseorang meski dia memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang hal itu.[9]
Manusia sebagai makhluk sosial tidak dapat hidup sendiri dalam masyarakat tanpa bantuan dan kerjasama dengan manusia lain dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari baik yang sifatnya material maupun non material. Orang kaya membantu yang miskin dalam hal materi dan harta, sementara orang miskin membantu yang kaya dalam hal tenaga dan jasa. Saling menolong tidak hanya dalam hal materi tetapi dalam berbagai hal diantaranya tenaga, ilmu, dan nasihat. Suatu masyarakat akan nyaman dan sejahtera jika dalam kehidupan masyarakat tertanam sikap ta’awun dan saling membantu satu sama lain. Seperti penjelasan dalam Al-Qur’an:
وَتَعَاوَنُوْاعَلَى الْبِرِّوَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْاعَلَى اْلِاثْمِ وَالْعُدْوَانُ
Artinya:
              “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong kamu dalam berbuat dosa dan kesalahan”.[10]

Pentingnya menerapkan sikap ta’awun tolong menolong pekerjaan akan dapat terselesaikan dengan lebih sempurna, melahirkan cinta dan belas kasih antar orang yag saling menolong, mengurangi berbagai macam fitnah, dapat menghilangkan kecemburuan sosial, dan menghapus jurang pemisah antar orang yag mampu dan orang yang tidak mampu karena yang satu dengan yang lain saling melengkapi.
2)   Bentuk dan Contoh Ta’awun
Ta’awun dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk antara lain:
a)    Terpenuhinya kebutuhan hidup berkat kebersamaan,
b)   Memperingan tugas berat karena dilakukan secara bersama sama,
c)    Terwujudnya persatuan dan kesatuan sesama anggota masyarakat, dan
d)   Mendahulukan kepentingan umum diatas kepentingan dirinya sendiri dan keluarga.
3)   Nilai-nilai Positif Ta’awun
Nilai-nilai positif tolong menolong dalam kehidupan. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial. Setiap orang membutuhkan bantuan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Oleh karena itu antara satu orang dengan yang lain harus menjalin pergaulan yang baik. Karena jika tidak kehidupan mereka akan berjalan sendiri. Pergaulaun yang baik itu salah satunya bisa diciptakan dengan mengembangkan sikap saling menolong antar sesama.[11] Banyak manfaat yang dapat diambil dari terciptanya hubungan saling menolong antara lain:
a)    Memperkuat tali atau hubungan silaturrahmi antar seesama,
b)   Diantara masyarakat akan tercipta simbiosis mutualisme (hubungan yang saling menguntungkan),
c)    Kebutuhan atau keperluan hdup akan dapat terpenuhi,
d)   Kesulitan hidup menjadi ringan, dan
e)    Kehidupan menjadi lebih tentram dan sejahtera.
4)   Membiasakan Berperilaku Ta’awun
Pembiasaan tolong menolong dalam kehidupan menjadikan tolong menolong sebagi kebiasaan memang tidak mudah, apalagi disaat serba sulit. Setiap orang seakan-akan tertuntut untuk memenuhi kebutuhan pribadinya masing masing sehingga menolong orang lain menjadi terlupakan.[12] Namun hal itu bukan tidak bisa dilakukan, untuk membiasakan tolong menolong kita dapat memulai setidaknya dengan:
a)    Memulainya dari hal-hal kecil,
b)   Memupuk rasa peduli terhadap orang lain,
c)    Belajar ikhlas dalam setiap perbuatan yang dilakukan,
d)   Mengingat semua karunia allah (sebagai bentuk pertolongan allah kepada manusia), dan
e)    Berdo’a kepada allah untuk membimbing diri kita menjadi seorang yang gemar menolong.

C.      Penutup
1.    Kesimpulan
Pengertian husnudzon adalah cara pandang sesesorang yang membuatnya melihat sesuatu secara positif dengan pikiran jernih. Husnuzan terhadap sesama manusia juga merupakan kunci sukses dalam pergaulan. Adapun perilaku yang mencerminkan sikap husnudzan: menyakini dengan sepenuh hati bahwa semua larangan dan perintah agama demi kebaikan manusia sendiri, dan menjauhi prasangka buruk kepada siapapun apabila tidak ada bukti. Dalam berperilaku husnudzon ada beberapa dampak positifnya antara lain: semakin dekat hubungan batin antara pelaku dan pihak lain yang diduga berbuat kebaikan, dan memperoleh kepercayaan dari orang yang menduga dirinya telah berbuat baik. Setelah mengetahui penting dan dampak positif hendaknya kita bisa membiasan sikap husnudzon dalam kehidupan sehari-hari.
Orang yang tawadhu’ adalah orang yang merendahkan diri dalam pergaulan dan tidak menampakkan kemampuan yang dimiliki. Tawadhu’ dapat dikatakan jalan ynag mengantarkan manusia bersatu dan damai dalam pergaulan, dan sebagai sikap untuk membina persaudaraan. Sikap tawadhu’ yang dimiliki seseorang dapat dilihat dari perilakunya sehari-hari. Bentuk-bentuk perilaku tawadhu’: menghormati orang yang lebih tua atau lebih pandai dari pada dirinya, menghargai pendapat dan pembicaraan orang lain, dan santun dalam berbicara kepada siapapun. Adapun dampak positif sikap tawadhu’, antara lain: menimbulkan simpatik pihak lain, akan dihormati oleh pihak, dan memperkuat hubungan persaudaraan antara dirinya dan orang lain. Untuk dapat memiliki sikap tawadhu’ dalam pergaulan, perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: biasakan bersikap sabar, usahakan untuk tidak bersikap sombong, dan jangan bersikap tamak dan rakus terutama harta benda.
Tasamuh berarti sikap tenggang rasa saling menghormati saling menghargai sesama manusia untuk melaksanakan hak-haknya. Tasamuh dapat menjadi pengikat persatuan dan kerukunan, mewujudkan suasana yang harmonis, dan dapat menjalin tali silaturrahmi kepada sesama. Bentuk-bentuk tasamuh dalam kehidupan sehari-hari: selalu memiliki niat atau dorongan untuk membantu orang lain, menghargai pendapat pikiran bahkan keyakinan orang lain, tidak suka memaksakan kehendak, dan tidak mengganggu ketenangan tetangga. Sebagai sifat terpuji, dampak positif tasamuh cukup banyak macamnya: menjadikan semakin eratnya hubungan persaudaraan orang lain dengan drinya, dan dapat memperluas kesempatan untuk memperoleh rizki karena bnyak relasi. Agar sikap tasamuh menjadi sikap yang dapat selalu kita jaga ada beberapa hal yang harus biasa kita lakukan diantaranya: senantiasa menghargai perbedaan, senantiasa bersikap lemah lembut , sopan, ramah, dan santun, dan menjadikan perbedaan untuk berlomba dalam berbuat kebaikan dan bukan untuk menambah perpecahan.
Ta’awun yang berarti tolong menolong, gotong royong, atau bantu  membantu dengan sesama. Pentingnya menerapkan sikap ta’awun pekerjaan  dapat terselesaikan dengan lebih sempurna, melahirkan cinta dan belas kasih antar orang yag saling menolong, dan menghapus jurang pemisah antar orang yag mampu dan orang yang tidak mampu karena yang satu dengan yang lain saling melengkapi. Ta’awun dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk antara lain: terpenuhinya kebutuhan hidup berkat kebersamaan, memperingan tugas berat karena dilakukan secara bersama sama, dan terwjudnya persatuan dan kesatuan sesama anggota masyarakat. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa manusia adalah makhluk sosial maka antara satu orang dengan yang lain harus menjalin pergaulan yang baik. Untuk membiasakan tolong menolong kita dapat memulai setidaknya dengan: memulainya dari hal-hal kecil, memupuk rasa peduli terhadap orang lain, belajar ikhlas dalam setiap perbuatan yang dilakukan.



[1]Baljon, Bimbingan Remaja Berakhlak Mulia, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), 16.
[2]QS., 17: 7.
[3]Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, (Jakarta: Gema Insani, 2004), 177.
[4]H. R. Abu Daud., 4897.
[5]Masan al Fat, Aqidah Akhlak, (Semarang: Adi Cita, 1994), 126.
[6]Ibrahim, Membangun Akidah dan Akhlak, (Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2002), 67.
[7]Ibid., 186.
[8]Ahmad Umar Hasyim, Menjadi Muslim Kaffah, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2004), 568.
[9]Anwar Masy’ari, Akhlak Al-Qur’an, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1990), 153.
[10] QS., 5: 2.
[11]Muhammad Ali Al-Hasyim, Menjadi Muslim Ideal, (Jakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001), 76.  
[12]Ibid., 92.

1 komentar: